Showing posts with label Usut Asal. Show all posts
Showing posts with label Usut Asal. Show all posts

Tuesday, September 10, 2013

MISTERI KARTU REMI



Kita telanjur mengenalnya sebagai kartu “remi”. Padahal “remi” sebenarnya nama salah satu permainan kartu yang oleh orang Inggris disebut playing cards atau card game.
Ada 1001 macam permainan kartu. Setiap negara bahkan wilayah suatu negara memiliki jenis permainannya sendiri. Di Tanah Air kita akrab dengan istilah permainan “empat-satu”, “remi”, “cangkulan”, dsb. Namun, yang populer di banyak negara misalnya poker, canasta, blackjack, casino, solitaire, bridge dengan jumlah pemain yang bisa berbeda-beda.
Solitaire dan bridge bagi kita barangkali lebih familiar ketimbang yang lain. Solitaire, yang sudah dimainkan orang sejak ratusan tahun yang lalu –dan banyak jenisnya—itu dimainkan sendirian, terutama untuk mengisi waktu luang. Jangan heran kalau menjelang jam kerja berakhir di kantor-kantor, mudah dijumpai karyawan yang asyik memainkannya di layar komputer pribadi (PC), bukan dengan kartu betulan. Maklum, solitaire menjadi program game standar yang di-install di PC.

Sunday, March 17, 2013

TANGGA PARA BIDADARI JELITA


Pelangi Horizontal
Pelangi memang fenomena alam yang dikenal akrab dalam kehidupan sehari-hari sebagai benda indah berbentuk busur warna-warni yang serasi. Pelangi seolah-olah menghubungkan langit dan bumi. Barangkali karena itu dalam dongeng rakyat ia dipercaya sebagai tangga bagi turun-naiknya para bidadari jelita dari kayangan menuju arcapada (bumi), untuk mandi atau mengambil air buat persediaan di kayangan.
Fenomena alam itu kerap muncul ketika hari hujan. Tetapi sebenarnya tak hanya berlaku bagi air hujan, juga semburan air laut saat kapal melesat kencang, pendaran air di sekitar air terjun, bahkan tetes-tetes embun di jaring laba-laba, dsb.
Sinar matahari yang putih sesungguhnya gabungan dari berbagai sinar – merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu – yang panjang gelombangnya berbeda-beda. Pelangi muncul ketika sinar matahari mengenai setetes bola air, lalu tiap unsur warnanya mengalami pembelokan dengan sudut yang berbeda-beda sampai tiga kali. Pertama, ketika menembus dinding bola titik air. Kedua, sewaktu direfleksikan pada dinding dalam bola itu, dan ketiga saat meninggalkan bola air, kembali ke udara. Karena gelombangnya terpanjang, sinar merah muncul pada sisi terluar busur pelangi, sedangkan sinar hijau yang memiliki gelombang terpendek, paling dalam.

Saturday, February 23, 2013

BENDERA



Saat berkibar-kibar, bendera memang memikat mata. Namun di saat lain, ia bisa menyebabkan orang rela mengorbankan nyawa.
Nenek moyang “bendera” diduga berupa pita-pita yang berkibar-kibar serupa bendera yang dipasang pada tiang. Simbol itu telah digunakan bangsa Mesir beberapa ribu tahun lalu dalam peperangan dengan harapan dewa akan menolong mereka meraih kemenangan. Tradisi itu diikuti oleh bangsa Syria, selanjutnya Yunani, dan Romawi.
Dalam peperangan bendera memang penting. Jenderal akan segera mengetahui posisi pasukan dengan melihat letaknya. Prajurit juga terbantu saat akan melepaskan anak panah, karena bendera bisa menunjukkan arah angin.
Dalam pertempuran, bila prajurit pembawa bendera terbunuh atau terluka, prajurit lain akan segera “menyelamatkan” bendera itu sebelum dirampas musuh. Maklumlah, jika bendera terampas, tamat pula pasukannya. Bahkan bendera yang jatuh melambangkan pula kekalahan suatu negara.

Wednesday, December 21, 2011

PENITI


Bila ingat pelawak Us Us, pasti ingat pula peniti besarnya. Tapi ia bukan orang pertama yang mengenakan peniti besar. Konon di makam kuno Mesir banyak ditemukan peniti dengan ukuran yang bervariasi – dari 5 cm sampai ada yang panjangnya mencapai 20 cm. Selain panjang, peniti itu juga memiliki pola yang sangat rumit dan terbuat dari bahan-bahan yang mahal.
Lahirnya peniti di dunia, menurut dugaan, berhubungan erat dengan munculnya kebutuhan menyemat pakaian. Peniti, bila dirunut dari sebutannya adalah bahasa Inggris, pin, berakar dari bahasa latin, pinna, artinya bulu. Besar kemungkinan, peniti tertua adalah belahan dari tulang bulu burung untuk menjepit atau menyemat.
Diperkirakan sejak 20.000 tahun silam orang mulai menggunakan benda ini. Peniti-peniti dari masa prasejarah itu biasanya terbuat dari tulang, kayu, dan duri. Salah satu bangsa yang tercatat memakai peniti bermateri itu adalah masyarakat Meksiko kuno. Mereka lebih memilih menggunakan duri agave (Agave americana) sejenis tanaman lidah buaya di wilayah Meksiko – dibandingkan dengan peniti besi. Demikian juga masyarakat Inggris yang hingga abad XVI lebih menyukai batang tusukan dari kayu yang masih diserut kasar, ketimbang peniti emas, perak, atau perunggu.

Tuesday, December 20, 2011

KIRIM PESAN LEWAT POSTER


Banyak cara untuk menyampaikan pesan terbuka. Salah satunya lewat poster. “Papan” pemberitahuan ini biasanya dicetak di atas kertas atau karton. Umumnya dipajang di tempat ramai agar menarik perhatian khalayak ramai. Pejalan kaki dan pengendara mobil. Bisa ditempel di tembok, billboard, kios, bahkan sekarang banyak dipasang di badan kendaraan umum. Pesannya cukup singkat dan bergambar. Supaya mudah dipandang dan dipahami, serta gampang diingat.
Pada awalnya poster berupa maklumat atau semacam surat edaran yang ditulis di atas panel kayu atau tembok. Itu terjadi di Yunani dan Italia. Kapan persisnya, kurang jelas. Yang pasti poster yang berkembang sekarang tak lepas dari poster kuno yang ditemukan oleh Aloys Senefelder, di Munich pada tahun 1798.
Akhir 1800-an, pelukis Henri de Toulouse-Lautrec dan Alphonse Mucha membuat poster dan direproduksi pada batu litograf. Poster pertama Toulouse-Lautrec dikerjakan tahun 1891. Kopian karyanya kini dinilai tinggi oleh kalangan kolektor dan museum seni.
Berdasarkan alirannya, antara lain dikenal poster seni, yang dikembangkan oleh seniman abad-19. Poster komersial (iklan), dan poster yang lebih menonjolkan kreativitas perancang grafisnya. Tentang poster seni, Jules Chéret adalah pionir poster litografis berwarna, pada era 1866, di Paris. Gabungan teknik ilustrator buku dan gaya lukisan dinding, dengan bahasa yang visual populer. Teknik litografi memungkinkan poster warna dibuat dalam jumlah banyak dan murah. Pada abad itu, poster seni juga berkembang di AS.

Sunday, December 18, 2011

BADUT WARGA FAVORIT DUNIA


Andai komedian terkenal Charlie Chaplin masih hidup dan ikut mengamati perkembangan politik di Indonesia, ia pasti tersenyum bangga. Ucapannya berpuluh-puluh tahun silan, “Cuma badut yang bisa membuat manusia terbang ke awan, bukannya para politikus tukang berantem,” mulai terbukti kebenarannya.
Tapi, omong-omong, pernah dengar enggak, profesi badut sebenarnya tak kalah tua dengan kemampuan manusia berpolitik praktis. Konon, sejak zaman Yunani dan Romawi Kuno, sudah ada manusia penghibur yang memoles wajahnya dengan bedak tebal dan berpakaian aneh, serta fasih memperagakan mimik-mimik lucu.
Mereka tak hanya membuat tertawa orang-orang kaya yang stres lewat pertunjukan. Tapi juga menghibur dan mencari nafkah di jalan-jalan alias ngamen. Dengan kemampuan berpantomim dengan gerakan-gerakan slapstik yang konyol, boleh jadi merekalah salah satu penjaja hiburan jalanan tertua di dunia.
Belakangan, istilah badut sendiri melebar kemana-mana. Lihat saja, hampir semua pelawak dan pemancing tawa kini juga kerap dijuluki sebagai badut. Bahkan orang serius yang sedang bertingkah laku konyol pun dikatai badut (he...he...he). Ya, sebagai istilah, badut memang mengalami perluasan makna.
Tapi kalau melihat sejarahnya, badut mengacu pada seseorang yang punya dandanan lucu (kadang meniru karakter komik). Selain itu, didukung make up tebal cenderung menor, hingga kostum berwarna norak nan unik. Ditambah kemampuan memperagakan mimik lucu dan gerakan-gerakan konyol, tanpa sedikit pun melepas kata-kata. Inilah yang membedakannya dengan pelawak konvensional.
Di Abad Pertengahan (sekitar tahun 500 M hingga 1.500 M) contohnya, tersebutlah karakter badut yang sangat terkenal. Masyarakat Eropa, khususnya Italia, mengenalnya sebagai arlecchino atau harlequin; yang dipopulerkan kelompok sandiwara commedia del l’arte. Kostum yang digunakan pun masih sangat sederhana, belum se-ngejreng sekarang.
Sedangkan busana badut seperti yang dikenal sekarang, sesungguhnya hasil perkembangan kostum yang pernah populer di Jerman dan Inggris, sekitar abad ke-18. Kala itu, dandanan dan gaya pantomim Pickellherring begitu terkenal. Cirinya, baju dan sepatu gombrong (kebesaran), penutup kepala warna-warni, serta renda besar yang melingkar di seputar leher sang badut.
Pada abad ke-18 ini pula, badut mulai menjadi bagian penting dari pertunjukan sirkus. Maklum, atraksi sirkus biasanya dipenuhi adegan-adegan akrobat yang menegangkan. Nah, kehadiran mahluk aneh pemancing tawa diharapkan bisa mengendurkan kembali urat saraf yang meregang. Hingga saat ini, aksi para badut tetap menjadi mata acara yang ditunggu-tunggu.
Joseph Grimaldi berpakaian badut
Salah satu pelopor pemakaian kostum badut modern, sekaligus bintang sirkus di awal abad ke-18 M, adalah karakter Jocy yang diciptakan Joseph Grimaldi. Konon, kelebihan Jocy yang membuatnya dikenang dalam sejarah perbadutan adalah kemampuannya menghidupkan tokoh badut yang diperankan. Jocy tidak sekadar melucu, tapi juga memainkan perasaan penontonnya, lewat mimik sedih, bahkan ketakutan.
Menjelang era perfilman modern, karakter badut mengilhami banyak tokoh bisnis hiburan. Komedian Charlie Chaplin dan Buster Keaton misalnya, mengadopsi spirit para badut dalam semua film bisunya. Mulailah perkembangan era baru perbadutan, dari awalnya mengamen di jalan, menjadi bagian tak terpisahkan dari bisnis hiburan.
Kini, badut-badut bisa dengan mudah ditemukan di berbagai tempat hiburan. Tentu, dengan beragam aksesori tambahan yang bikin geregetan. Semisal hidung bulat bak tomat, atau topeng meniru karakter komik tertentu. Uniknya, dengan tujuan selama berabad-abad lamanya tak pernah berubah, untuk memancing tawa dan menghibur siapapun yang memandangnya.
Barangkali benar kata penulis lagu beken Amerika, Cole Porter (1893-1964), “All the world loves a clown.” Ya, sepertinya memang tak seorang pun di muka Bumi ini yang tak suka badut. Tak salah kalau dia layak diberi gelar warga favorit dunia. (Icul/dari berbagai sumber)


Tulisan tentang asal usul badut ini berasal dari kolom “Usut Asal”, Majalah Intisari, September 2001, hlm. 64-65.

Apa sih yang dimaksud dengan mamihlatinatapai?

Di siang yang panas, udara di dalam kamar terasa tak tertahankan. Padahal pintu dan jendela sudah dibuka lebar-lebar. Andi yang sedang berba...