Mengatakan bahwa bahasa Latin
adalah sebuah “bahasa mati” (dead
language) adalah permasalahan semantik. Ada orang-orang yang mengatakan
bahwa bahasa Latin bukanlah bahasa mati sebab bahasa ini masih “hidup” dalam
bahasa sehari-hari yang digunakan oleh milyaran orang di penjuru bumi.
Sementara yang lainnya beralasan bahwa masih ada pemutakhiran rutin terhadap
bahasa Latin yang diterbitkan oleh pihak Gereja Katolik Roma, dengan demikian
bahasa ini masih hidup dan berkembang.
Meskipun
begitu, bahasa Latin tidak lagi digunakan, dalam percakapan sehari-hari, oleh
mayoritas orang yang berada di luar lingkungan keagamaan tertentu yang secara
tradisi mewajibkan penggunaannya. Bahasa Latin tidak lagi menjadi bahasa ibu
untuk siapa pun. Meskipun masih diajarkan, bahasa Latin tidak lagi dipandang
sebagai bahasa yang sedang berkembang hingga tingkatan yang dicapai oleh
sebagian besar bahasa modern.
Ada beberapa
alasan mengapa bahasa Latin bisa mati. Alasan yang paling signifikan barangkali
ada kaitannya dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi. Selama masa Romawi, bahasa
mengalami standardisasi sampai tingkatan yang luas. Seperti halnya mempelajari
bahasa Inggris adalah hal yang vital bagi mereka yang hidup di negara Amerika
Serikat saat ini, demikian juga bahasa Latin sangatlah penting bagi orang-orang
yang hidup di masa Romawi jika mereka ingin benar-benar sukses.

