Sunday, December 18, 2011

BADUT WARGA FAVORIT DUNIA


Andai komedian terkenal Charlie Chaplin masih hidup dan ikut mengamati perkembangan politik di Indonesia, ia pasti tersenyum bangga. Ucapannya berpuluh-puluh tahun silan, “Cuma badut yang bisa membuat manusia terbang ke awan, bukannya para politikus tukang berantem,” mulai terbukti kebenarannya.
Tapi, omong-omong, pernah dengar enggak, profesi badut sebenarnya tak kalah tua dengan kemampuan manusia berpolitik praktis. Konon, sejak zaman Yunani dan Romawi Kuno, sudah ada manusia penghibur yang memoles wajahnya dengan bedak tebal dan berpakaian aneh, serta fasih memperagakan mimik-mimik lucu.
Mereka tak hanya membuat tertawa orang-orang kaya yang stres lewat pertunjukan. Tapi juga menghibur dan mencari nafkah di jalan-jalan alias ngamen. Dengan kemampuan berpantomim dengan gerakan-gerakan slapstik yang konyol, boleh jadi merekalah salah satu penjaja hiburan jalanan tertua di dunia.
Belakangan, istilah badut sendiri melebar kemana-mana. Lihat saja, hampir semua pelawak dan pemancing tawa kini juga kerap dijuluki sebagai badut. Bahkan orang serius yang sedang bertingkah laku konyol pun dikatai badut (he...he...he). Ya, sebagai istilah, badut memang mengalami perluasan makna.
Tapi kalau melihat sejarahnya, badut mengacu pada seseorang yang punya dandanan lucu (kadang meniru karakter komik). Selain itu, didukung make up tebal cenderung menor, hingga kostum berwarna norak nan unik. Ditambah kemampuan memperagakan mimik lucu dan gerakan-gerakan konyol, tanpa sedikit pun melepas kata-kata. Inilah yang membedakannya dengan pelawak konvensional.
Di Abad Pertengahan (sekitar tahun 500 M hingga 1.500 M) contohnya, tersebutlah karakter badut yang sangat terkenal. Masyarakat Eropa, khususnya Italia, mengenalnya sebagai arlecchino atau harlequin; yang dipopulerkan kelompok sandiwara commedia del l’arte. Kostum yang digunakan pun masih sangat sederhana, belum se-ngejreng sekarang.
Sedangkan busana badut seperti yang dikenal sekarang, sesungguhnya hasil perkembangan kostum yang pernah populer di Jerman dan Inggris, sekitar abad ke-18. Kala itu, dandanan dan gaya pantomim Pickellherring begitu terkenal. Cirinya, baju dan sepatu gombrong (kebesaran), penutup kepala warna-warni, serta renda besar yang melingkar di seputar leher sang badut.
Pada abad ke-18 ini pula, badut mulai menjadi bagian penting dari pertunjukan sirkus. Maklum, atraksi sirkus biasanya dipenuhi adegan-adegan akrobat yang menegangkan. Nah, kehadiran mahluk aneh pemancing tawa diharapkan bisa mengendurkan kembali urat saraf yang meregang. Hingga saat ini, aksi para badut tetap menjadi mata acara yang ditunggu-tunggu.
Joseph Grimaldi berpakaian badut
Salah satu pelopor pemakaian kostum badut modern, sekaligus bintang sirkus di awal abad ke-18 M, adalah karakter Jocy yang diciptakan Joseph Grimaldi. Konon, kelebihan Jocy yang membuatnya dikenang dalam sejarah perbadutan adalah kemampuannya menghidupkan tokoh badut yang diperankan. Jocy tidak sekadar melucu, tapi juga memainkan perasaan penontonnya, lewat mimik sedih, bahkan ketakutan.
Menjelang era perfilman modern, karakter badut mengilhami banyak tokoh bisnis hiburan. Komedian Charlie Chaplin dan Buster Keaton misalnya, mengadopsi spirit para badut dalam semua film bisunya. Mulailah perkembangan era baru perbadutan, dari awalnya mengamen di jalan, menjadi bagian tak terpisahkan dari bisnis hiburan.
Kini, badut-badut bisa dengan mudah ditemukan di berbagai tempat hiburan. Tentu, dengan beragam aksesori tambahan yang bikin geregetan. Semisal hidung bulat bak tomat, atau topeng meniru karakter komik tertentu. Uniknya, dengan tujuan selama berabad-abad lamanya tak pernah berubah, untuk memancing tawa dan menghibur siapapun yang memandangnya.
Barangkali benar kata penulis lagu beken Amerika, Cole Porter (1893-1964), “All the world loves a clown.” Ya, sepertinya memang tak seorang pun di muka Bumi ini yang tak suka badut. Tak salah kalau dia layak diberi gelar warga favorit dunia. (Icul/dari berbagai sumber)


Tulisan tentang asal usul badut ini berasal dari kolom “Usut Asal”, Majalah Intisari, September 2001, hlm. 64-65.

MENGAPA NYAMUK BERTERBANGAN DI WAKTU MAGHRIB?


Waktu senjakala kita sering melihat nyamuk beterbangan di bawah cucuran atap rumah, segerombol demi segerombol, bukan main riuh rendahnya suara dengungan mereka; adakalanya juga waktu kita jalan-jalan di rerumputan, kawanan nyamuk beterbangan kian kemari di atas kepala dan bergerak mengikuti jalan kita.
Sesungguhnya kawanan nyamuk itu sebagian besar adalah nyamuk jantan, walau di antaranya terdapat juga nyamuk betina, tetapi tidak banyak jumlahnya. Kawanan nyamuk kawin di udara untuk mengembangbiakkan keturunannya.
Perkawinan nyamuk kebanyakan dilakukan waktu mereka beterbangan di udara dan penerbangan itu ada kaitannya dengan cahaya, bunyi, ruang, dan tempa. Sebagian nyamuk terbang waktu matahari tenggelam atau tatkala matahari terbit dan tidak akan terbang waktu hari terang benderang. Umumnya penerangan cahaya 1-10 lilin paling cocok untuk nyamuk. Nyamuk silau terhadap cahaya yang terlampau terang, juga tidak menyukai keadaan yang gelap sekali. Penerangan itu rupanya tidak terpengaruh oleh panjang-pendeknya gelombang sinar, namun ada sangkut pautnya dengan warna: warna hijau lebih menguntungkan mereka daripada warna merah.
Adapun nyamuk itu mengeluarkan suara yang tertentu waktu terbang, dan lain nyamuk lain pula suaranya. Suara terbang nyamuk jantan dan nyamuk betina pun tidak sama. Suara terbang nyamuk betina dapat memikat nyamuk jantan untuk datang terbang bersama-sama.
Di samping itu, masing-masing nyamuk memilih tempat yang paling cocok untuk terbang. Misalnya nyamuk malaria (Anopheles), nyamuk-gigit (Culex), nyamuk demam berdarah (Aedes) lebih suka beterbangan di ruang yang agak luas; sedangkan nyamuk Aedes albopictus dan nyamuk Aedes yang banyak terdapat di Mesir tidak memerlukan ruang yang luas untuk beterbangan sambil kawin. Ada pula nyamuk yang suka beterbangan di atas benda tertentu, misalnya ada sejenis nyamuk Anopheles yang gemar beterbangan dalam jarak 30-60 cm di atas tahi lembu yang masih basah. Misalnya pula, nyamuk Culex, yaitu sejenis nyamuk rumah yang sering kita lihat, suka beterbangan di sekitar cucuran atap rumah.

MENGAPA NYAMUK CENDERUNG MENGGIGIT ORANG YANG BERPAKAIAN HITAM?


Bagian-bagian tubuh nyamuk Anopheles
Nyamuk mempunyai sepasang mata besar yang hampir merupakan tiga perempat dari bagian kepalanya. Mata itu terdiri dari sejumlah mata kecil, mata majemuk namanya. Mata majemuk selain dapat membedakan benda, dapat pula membedakan berbagai macam warna serta kuat lemahnya cahaya.
Sebagian besar nyamuk menyukai cahaya yang lemah atau redup dan tidak menyukai cahaya yang kuat atau terang benderang. Meskipun demikian sebagian besar nyamuk juga tidak suka berada dalam keadaan yang gelap gulita. Oleh karena nyamuk itu banyak jenisnya, maka kesukaan para nyamuk terhadap kuat lemahnya cahaya pun tidak sama tingkatannya. Misalnya nyamuk demam kuning atau demam berdarah (Aedes) kebanyakan aktif di siang hari, sedangkan nyamuk-gigit (Culex) tidur di siang hari dan baru aktif pada petang hari atau sewaktu fajar merekah. Baik yang bergerak di siang hari maupun yang melakukan aktivitas di malam hari, kedua-duanya menjauhkan diri dari cahaya yang terang benderang; sekalipun nyamuk Aedes atau Culex pipiens yang biasa aktif di siang hari, mereka juga mulai bergerak sesudah lewat pukul 3 atau 4 sore.
Apabila kita mengenakan pakaian hitam, warna itu akan memantulkan cahaya yang redup agak gelap yang sesuai dengan kesukaan sebagian besar bangsa nyamuk; sebaliknya jika kita mengenakan pakaian putih, pemantulan cahaya menjadi jauh lebih terang sehingga nyamuk takut untuk mendekat. Oleh karena itulah orang yang memakai pakaian berwarna hitam memiliki peluang lebih besar untuk digigit nyamuk daripada yang memakai pakaian berwarna putih.

Saturday, December 17, 2011

BISAKAH HEWAN MENGENALI DIRI MEREKA DI CERMIN?

Sebagian besar hewan ketika dihadapkan pada citra mereka yang muncul di cermin akan memperlihatkan reaksi seolah-olah mereka sedang berhadapan dengan seekor hewan yang asing, namun para ilmuwan telah membuktikan bahwa selain manusia ada beberapa ekor hewan yang mampu mengenali gambaran mereka sendiri pada cermin. Hewan-hewan tersebut antara lain lumba-lumba dan sebagian besar kera.
Para ilmuwan menggunakan “uji cermin” sebagai sebuah sarana penting dalam menyelidiki konsepsi hewan terhadap diri mereka sendiri. Dalam pengujian pengenalan diri melalui cermin ini, para ilmuwan membubuhkan tanda-tanda dengan warna tertentu di bagian tubuh hewan yang bisa terlihat langsung oleh hewan itu sendiri. Kemudian, hewan itu dihadapkan ke sebuah cermin. Jika hewan tersebut mencari-cari tanda-tanda itu di cermin, hanya dengan dasar karena ia telah melihatnya secara langsung, maka itu tandanya hewan tersebut dapat mengenali dirinya sendiri. Kemampuan pengenalan diri melalui cermin ini tampak pada manusia, simpanse, bonobo, orang utan, lumba-lumba, dan sebagian besar magpies dan gajah. Yang mengejutkan, sebagian besar penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa gorila adalah satu-satunya anggota kera besar yang tidak menunjukkan adanya pengenalan diri, dan hingga kini para ilmuwan masih belum bisa memastikan sebabnya. Meskipun demikian, ada beberapa ekor gorila yang dibesarkan di lingkungan manusia bisa lulus uji cermin ini, dan mendorong para ilmuwan untuk menyimpulkan bahwa gorila bisa mempelajari pengenalan diri semacam ini jika mereka memiliki cukup waktu dalam berinteraksi dengan manusia.
Hewan-hewan yang mampu mengenali diri mereka sendiri di cermin cenderung memiliki otak yang relatif lebih besar dan kompleks, memiliki kehidupan sosial yang baik, dan memiliki kemampuan untuk memahami hewan lainnya serta memperlihatkan emosi kepada hewan itu. Banyak peneliti yang menduga bahwa empati dan kecerdasan sosial berdasar pada konsep mengenai diri, yang tanpa konsep itu kita tidak akan mampu mengenali pantulan diri kita pada cermin. Yang menarik, bayi manusia tidak memiliki kemampuan mengenai pantulan dirinya pada cermin hingga usia satu setengah atau dua tahun, sebuah tahapan yang jelas dalam perkembangan anak-anak.




Majalah Science Illustrated, Februari 2010, hlm. 30
Gambar dari : http://www.msnbc.msn.com

LIPAN BERKAKI SERATUS


Lipan raksasa Puerto Rico
Lipan atau kelabang mempunyai julukan “binatang berkaki seratus”, termasuk kelas Myriapoda (binatang berkaki seribu) dari bagian pokok Arthropoda (binatang yang berkaki berbuku-buku). Dalam kesan orang, binatang itu mempunyai seratus kaki, namun sebenarnya tidak sebanyak itu; misalnya lipan yang sering kita lihat hanya 10-15 cm panjangnya dan cuma mempunyai kaki 22 pasang. Sepasang kaki yang terdepan terletak di muka bagian bawah mulut, mirip dengan sepit dan di dalamnya terdapat kelenjar bisa, maka oleh sementara orang disebut sebagai “gigi berbisa”, tapi sebenarnya adalah sepasang cakar berbisa. Sedangkan sepasang kakinya yang terakhir mengarah ke belakang dan berubah menjadi ekor panjang, disebut gonopoda atau alat kopulasi yang berasal dari kaki yang sudah berubah bentuknya. Jadi, lipan itu sebenarnya hanya mempunyai 20 pasang atau 40 batang kaki.
Di samping lipan tersebut di atas, lipan yang sering kita lihat adalah lipan Lithobius (lipan batu yang suka tinggal di bawah batu dalam pekarangan), panjangnya hanya 2-3 cm, sungutnya agak panjang, kakinya 15 pasang. Kaki terakhirnya yang luar biasa panjangnya tidak mempunyai fungsi atau faal untuk berjalan, tapi merupakan alat peraba yang amat tajam atau sensitif sekali, dapat mengetahui penguntitan para musuhnya. Konon kabarnya di Afrika dan Amerika Selatan terdapat lipan raksasa yang panjangnya lebih dari 30 cm. Di Tali, provinsi Yunnan di Tiongkok, terdapat lipan yang kurus panjang laksana seutas benang dan berkaki 35 pasang.
Lipan binatang kecil “berkaki seribu” itu jalannya amat cepat. Binatang itu umumnya hidup di tempat yang lembab dan gelap, misalnya di celah batu, di kaki dinding, di tumpukan daun, atau di timbunan remukan tumbuhan. Siang hari bersembunyi di tempat gelap, malam hari keluar mencari makanan dengan menggunakan cakarnya yang berbisa untuk menangkap serangga kecil.
Lipan memiliki kelenjar bisa—setelah menyengat, kita segera merasa kesakitan dan yang lebih serius lagi akan merasa pusing, sakit kepala atau muntah. Lazimnya kita mencuci luka yang ditimbulkan oleh sengat itu dengan 5-10% cairan amonia untuk menawarkan bisa dan meringankan rasa sakit.
Meskipun lipan itu berbisa, tapi dapat dipakai sebagai bahan obat dalam untuk menyembuhkan penyakit kejang anak-anak dan rematik, juga sebagai bahan obat luar untuk menyembuhkan bermacam borok atau kudis serta luka digigit ular dan sebagainya, bisa juga untuk menghilangkan rasa sakit dan bengkak. Kini di Tiongkok telah diadakan pemeliharaan lipan khusus untuk bahan obat-obatan. Jadi, meskipun lipan itu jahat, suka menyengat orang, tapi kalau kita bisa memeliharanya baik-baik, binatang itu bisa berubah menjadi binatang yang berguna dan menguntungkan.

MENGAPA ULAR SANCA DAPAT MENELAN MANGSA YANG LEBIH BESAR?


Cara ular sanca (Python molurus) menelan mangsanya memang sangat menyeramkan.
Ular tersebut hidup dalam hutan belukar dengan berbagai amfibi, burung, dan tikus sebagai makanan utama. Adakalanya dapat membelit sampai mati dan kemudian menelan seekor rusa atau kambing yang beratnya antara 25-30 kilogram. Sungguh seram!
Mengapa ular sanca dapat menelan binatang sebesar itu?
Ternyata ular sanca memiliki struktur yang unik untuk menelan dan mencernakan makanan. Pada kedua sisi tulang rahang bawahnya terdapat dua tulang segi empat yang melalui tulang sendi dapat berhubungan dengan tengkorak. Tatkala mulutnya tertutup, tulang segi empat itu merebah, sedangkan ketika mulutnya terbuka, tulang segi empat itu menegak. Ini memungkinkan ular sanca membuka mulutnya lebar-lebar. Manusia paling banter dapat membuka mulutnya selebar 30 derajat, sedangkan mulut ular sanca dapat membuka sampai 130 derajat.
Dinding tubuh, saluran makan, dan lambung sanca sangat kenyal. Lagipula tulang dada dan tulang rusuknya tak bersambungan, sedangkan ujungnya juga terpisah. Dengan begitu, dadanya dapat dikembungkan menjadi besar sekali sehingga mangsa yang cukup besar pun dapat ditelan tanpa kesulitan apapun.
Ular sanca tidak memilih-milih dalam soal makanan. Binatang kecil pun dapat sekaligus ditelan habis. Selain bulu unggas dan bulu hewan yang agak susah dicernakan, segala isi perut, kulit, daging, dan bahkan tulang-belulangnya dapat dicernakan semua.
Ular sanca biasa “makan berlebihan”. Terkadang sampai berbulan-bulan binatang ini tidak makan setelah menelan seekor kambing besar. Dengan demikian ular sanca seakan-akan binatang yang betul-betul tahan lapar.


foto dari : http://archive.dailypicture.net

ULAR DAN MANFAATNYA


Memang, berbicara tentang ular dan bisanya seringkali mendirikan bulu roma. Di di dunia ini terdapat banyak jenis ular. Di antaranya yang sangat berbisa dan paling ditakuti orang adalah ular sendok (Naja naja), ular derik (Crotalus adamanteus), ular katang tebu (Bungarus fasciatus), ular belang Taiwan (Bungarus multicinctus), ular lima langkah (Agkistrodon acutus), dan lain-lain.
Setelah digigit ular, sungguh tidak boleh diabaikan. Sebaliknya harus segera diobati, kalau tidak pasti akan sangat membahayakan.
Dewasa ini, orang telah menggunakan ular berbisa untuk memproduksi berbagai serum sebagai penangkal berbagai bisa ular dan juga untuk pengobatan luka karena gigitan ular berbisa. Ternyata efek pengobatannya sangat menggembirakan.
Dari bisa ular dapat diperoleh banyak macam enzim aktif untuk keperluan penelitian ilmiah dan produksi. Selain itu, menggunakan efek analgesia bisa ular untuk mengobati rasa sakit kanker ternyata juga lebih berhasil daripada morfin. Yang lebih penting ialah pengobatan dengan bisa ular tidak menimbulkan efek sampingan apapun yang dapat menyebabkan orang ketagihan.
Hati dan kulit ular dapat dipakai untuk menyembuhkan radang batang tenggorokan, kaku persendian, nyeri tenggorokan dan beberapa penyakit lainnya.

Apa sih yang dimaksud dengan mamihlatinatapai?

Di siang yang panas, udara di dalam kamar terasa tak tertahankan. Padahal pintu dan jendela sudah dibuka lebar-lebar. Andi yang sedang berba...